rss

Literasi Sains dan Pengukurannya


Kompetensi literasi sains menurut PISA terdiri dari tiga hal yaitu: 1) Kompetensi mengidentifikasi isu-isu ilmiah. Kemampuan ini meliputi bebrapa keterampilan yaitu mengidentifikasi masalah yang dapat diselidiki secara ilmiah, mengidentifikasi kata kunci untuk mencari informasi ilmiah, mengidentifikasi kata kunci dari penyelidikan ilmiah. 2) kompetensi menjelaskan fenomena ilmiah.  Beberapa keterampilan dalam kompetensi ini mencakup menerapkan pengetahuan ilmu pada situasi tertentu, menggambarkan atau menafsirkan fenomena ilmiah dan memprediksi perubahan, mengidentifikasi deskripsi yang tepat, menjelaskan, dan melakukan prediksi. 3) Kompetensi menggunakan bukti-bukti ilmiah. Komptensi ini meliputi beberapa keterampilan yaitu mengintepretasikan bukti ilmiah dan membuat dan memberikan kesimpulan, mengidentifikasi asumsi-asumsi, bukti dan memberikan alasan untuk menarik kesimpulan, merefleksikan implikasi sosial dari sains dan perkembangan teknologi. (OECD, 2006; 2012; Toharudin., et al, 2011).
Pengukuran terhadap pencapaian literasi sains berdasarkan standar  PISA yakni proses sains, konten sains, dan konteks aplikasi sains. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidenifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Termasuk  juga mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak dapat dijawab oleh sains, mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains, serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang ada. Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui akitivitas manusia. Situasi atau konteks adalah area aplikasi konsep-konsep sains yang dikelompokkan menjadi tiga area sains yaitu kehidupan dan kesehatan, bumi dan lingkungan dan teknologi (Toharudin., et al, 2011: 9)
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan literasi sains seseorang. Menurut Hariadi (2009) beberapa faktor yang mempengaruhi literasi sains pada seseorang yaitu: 1) sikap mahasiswa terhadap sains, 2) latar belakang pendidikan orang tua, 3) kepercayaan diri dan motivasi belajar sains, 4) waktu untuk belajar sains, 5) strategi belajar mengajar sains. Sejalan dengan pendapat tersebut Sujana, (2004) dan  Özdem., et al (2010) menyebutkan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan guna meningkatkan kemampuan literasi sains yaitu dengan meningkatkan kualitas pembelajaran.


Inkuiri Terbimbing dan Literasi Sains


Pada abad 21, seseorang dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan sains dan teknologi (Ozdem et al, 2010). Sains memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan pribadi pada masyarakat dan ekonomi global. Maka agar bisa berhasil pada abad 21 ini, siswa seharusnya memiliki kemampuan literasi sains yang baik dan memiliki prinsip belajar sepanjang hayat (Glynn & Muth, 1994). Kemampuan literasi yang baik akan membiasakan siswa untuk tidak hanya belajar membaca, tetapi membaca untuk belajar, serta memiliki kemampuan untuk memahami bacaan (Kuhlthau, 2010). Literasi sains menjadi suatu keharusan bagi setiap individu untuk memiliki peluang yang lebih besar agar seseorang dapat menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan dan meningkatkan pembangunan suatu bangsa (Genc, 2015; Jurecki, 2012; Turgut, 2007).
Konsep literasi sains mulanya diperkenalkan oleh Hurd (1958) dan McCurdy (1958) pada dunia pendidikan (Bacanak dan Gokdere, 2009). Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memahami dan menggunakan pengetahuan dalam bidang sains (Dani, 2009; Cansiz, 2011; Cavas et al, 2013). Pengertian lain menyebutkan bahwa literasi sains merupakan suatu sikap pemahaman seseorang terhadap sains dan kemampuan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Eisenhart, 1996; Hurd, 1998; De Boer, 2000). Komponen literasi sains meliputi kemampuan mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta, mengkomunikasikan baik lisan maupun tulisan serta membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia sehingga memiliki sikap dan kepekaan tinggi terhadap diri dan lingkungan (Toharudin et al, 2011).
Pada proses pembelajaran sains seharusnya siswa dibekali kemampuan literasi sains yang baik (Hoolbroke, 2008), termasuk mahasiswa yang mengambil program keguruan. Sebagai calon guru yang berperan sebagai agen perubahan mempunyai peran penting dalam membelajarkan sains kepada siswa untuk mencapai tujuan belajar sains (Ozdem et al, 2010). Maka diharapkan guru juga memiliki kemampuan literasi sains yang baik (Cavas et al, 2013). Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains masih belum seperti yang diharapkan. Dantaranya, penguasaan guru terhadap kemampuan sains  dan aplikasinya dalam pembelajaran masih sangat rendah (Budiastra, 2011). Pada proses pembelajaran, guru belum mengaitkan materi belajar dengan kehidupan sehari-hari (Ayas et al, 2001), disisi lain guru SD dan mahasiswa PGSD belum memiliki kemampuan literasi sains yang baik (Çepni, 1997; Çepni & Bacanak, 2002; Sujana, 2014). Kemampuan literasi sains siswa di Indonesia berada pada kategori rendah dan proses pembelajaran masih belum optimal dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi sains (Dahtiar, 2015). Kemampuan literasi sains siswa Indonesia pada aspek konten, proses dan konteks dalam kategori rendah (Odja & Payu, 2014; Suciati, et al, 2013).
Upaya yang dapat dilakukan guna meningkatkan kemampuan literasi sains yaitu dengan meningkatkan kualitas pembelajaran (Sujana, 2014). Diperlukan model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan untuk kreatif dalam menggunakan pengetahuan dengan tepat berdasarkan bukti ilmiah, terutama dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan diri dalam memecahkan masalah serta dapat membuat keputusan ilmiah bersama dan dapat dipertanggungjawabkan (Holbrook et al, 2009). Melalui proses inkuiri maka kemampuan literasi sains dapat ditingkatkan (Carlson, 2008; Gormally et al, 2009, Adolphus; et al, 2012). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa (El Islami, 2013; Ngertini, et al, 2013).
Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan suatu model pembelajaran yang potensial untuk diterapkan pada pembelajaran biologi (Bialangi et al, 2016). Pembelajaran inkuiri terbimbing menekankan mahasiswa untuk belajar melalui tahapan untuk mendapatkan pengetahuan melalui proses metode ilmiah yaitu merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, memverifikasi hasil, dan menggeneralisasikan dengan menarik kesimpulan. Pada proses inkuiri terbimbing peran guru adalah sebagai pembimbing dalam proses pengambilan keputusan (Matthew, 2013; Obomanu et al, 2014). Pada proses pembelajaran inkuiri terbimbing siswa bekerjasama dengan guru untuk merumuskan masalah dan mengembangkan jawaban. Kegiatan tersebut dapat melatih siswa untuk mengembangkan sikap tanggungjawab dan kemampuan kognitif (Bilgin, 2009). Selain itu kegiatan inkuiri juga melatih siswa untuk terlibat secara aktif dalam menemukan konsep dan prinsip materi yang sedang dipelajari (Kubicek, 2005). Pemanfaatan artikel pada proses pembelajaran inkuiri dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan dalam memahami bacaan, selain itu melalui kajian membaca juga dapat membangun pengetahuan mereka sendiri (Baer et al, 2008; Maulis et al, 2012). 


Analisis Kritis Artikel Model Pembelajaran CIRC


ANALISIS KRITIS ARTIKEL
oleh: Rizhal Hendi Ristanto


Bibliografi
Zarei, A.A. 2012. The Effects of STAD and CIRC on L2 Reading Comprehension and Vocabulary Learning. Frontiers of Language and Teaching, Vol. 3, 161-173

Tujuan penulisnya:
Mengetahui efektifitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan CIRC terhadap prestasi pemahaman bacaan dan belajar kosa kata bahasa inggris pada mahasiswa Iran.

Fakta-fakta Unik
Populasi dan sampel:
Populasi: 132 mahasiswi dari National Institute of English Language (NIEL) Takestan, Iran.
Sampel: 132 mahasiswi , teerdiri atas 3 kelompok pada tingkatan dasar, masing-masing kelompok terdiri dari 24 mahasiswi dan 3 kelompok dengan jumlah anggota masing-masing sebanyak 20.
Prosedur penelitian:
Membentuk kelompok yang bersifat heterogen yaitu dengan melihat hasil pre tes kemudian menentukan 5 siswa yang berprestasi tinggi dan 5 siswa dengan prestasi rendah, sedangkan pada kelompok dasar dipilih 6 siswa dengan prestasi tinggi dan 6 siswa dengan prestasi rendah.

Rumus menentukan anggota kelompok terdiri dari 1 prestasi tinggi dan rendah, serta 2 dengan prestasi rata-rata. Alasannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling belajar
Menentukan kelompok dengan menerapkan model STAD dan CIRC

Kelompok STAD:
Guru menjelaskan materi, kemudian siswa dalam kelompok saling belajar hingga bisa benar-benar memahami materi kemudian siswa diberikan tes secara individu. Hasil post test dan pre test kemudian di uji untuk mengukur hasil belajar mereka. Skor kelompok didapatkan dari hasil penjumlahan skor seluruh anggota, dan kelompok yang memiliki jumlah skor terbaik mendapatkan penghargaan.

Kelompok CIRC:
Siswa dalam kelompok diminta untuk mengikuti 4 fase Cooperative Strategic Reading (CSR)
Siswa diminta untuk merangkum pada tiap-tiap bagian bacaan
Setiap sesi terdiri dari 5 langkah yaitu (1) pengantar pembelajaran (2) pemodelan berpikir (3) bantuan scaffolding, mendapatkan lebih banyak bantuan guru, kurang mendapatkan bantuan guru, tidak ada bantuan guru (4) aplikasi dalam membaca (5) aplikasi secara tertulis.
Pada Setiap sesi, peserta didik dawajibkan membaca dan mendiskusikan hasil. Apabila siswa menemukan istilah baru maka siswa dimnita untuk menemukan makna istilah tersebut.
Pada kedua kelompok STAD maupun  CIRC dituntut untuk berdiskusi, saling membantu, sedangkan guru memberikan bimbingan pada tiap-tiap kelompok.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul:
Pada artikel, salah satu sintaks kooperatif STAD maupun CIRC mengapa tidak menyebutkan presentasi siswa atau diskusi kelas yang selama ini saya ketahui menjadi salah satu kelebihan pembelajaran kooperatif?

Bagaimanakah 4 fase Cooperative Strategic Reading  yang diterapkan pada model CIRC?

Bagaimakah efektifitas CIRC terhadap hasil belajar dan pemahaman  bahasa-bahasa ilmiah pada mata kuliah konsep dasar biologi SD?

Konsep Utama
Penelitian yang diterapkan pada mahasiswi National Institute of English Language dengan membandingkan dua model belajar kooperatif yaitu STAD dan CIRC menunjukkan pembelajaran CIRC lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar berupa pemahaman membaca dan belajar kosa kata atau istilah baru.

Refkeksi
Setelah menganalisis artikel ini, saya menjadi lebih memahami tentang prosedur pada pelaksanaan model CIRC yang nantinya model ini yang saya terapkan pada rencana penelitian disertasi saya, meskipun metode penelitian dalam artikel ini masih kurang menampilkan sintaks diskusi kelas atau presentasi kelas yang berfungsi untuk menyamkan persepsi yang mungkin masih belum tepat pada saat proses pembelajaran baik STAD maupun CIRC. CIRC tepat untuk belajar dengan membaca dan pemahaman pada istilah-istilah baru. Hal tersebut saya kira sesuai juga dengan karakteristik mata kuliah konsep dasar biologi SD yang menuntut mahasiswa untuk paham istilah-istilah atau bahasa-bahasa ilmiah yang selama ini masih menjadi salah satu kendala mahasiswa PGSD Universitas Pakuan yang didominasi dari lulusan SLTA jurusan non-IPA atau tidak ada mata pelajaran biologi.


[Nilai] KONSEP DASAR BUMI & ANTARIKSA SD 2014




Hasil belajar mata kuliah Konsep Dasar Bumi dan Antariksa SD FKIP Universitas Pakuan Bogor dapat diunduh pada link berikut:

DIMENSI ILMU: PENGERTIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI


ONTOLOGI
Merupakan cabang metafisika yang membicarakan eksistensi dan ragam dari suatu kenyataa. Ada beberapa tafsiran tentang kenyataan, diantaranya menurut supernaturalisme dan naturalisme.

1. Supernaturalisme:
terdapat wujud-wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan wujud alam yang nyata. Kepercayaan yang didasarkan pada supernaturalisme adalah animisme, yang berpandangan bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib, yang terdapat dalam benda-benda tertentu, misalnya: batu, gua, keris, dan sebagainya.

2. Naturalisme.
Paham yang berdasarkan naturalisme, yaitu materialisme, menganggap bahwa gejala-gejala alam diketahui. Tokoh pioner materialisme adalah (Democritos (460-370 SM).

EPISTEMOLOGI (Epistemology)
Epistemologi disebut juga the theory of knowledge atau teori pengetahuan. Epistemologi berusaha mengidentifikasi dasar dan hakikat kebenaran dan pengetahuan. Pertanyaan khas dari epistemologi adalah bagaimana mengetahui (how to know?), pertanyaan tersebut tidak hanya menanyakan apa (what) dari apa yang kita tahu (the products), tetapi juga tentang bagaimana (how) kita sampai mengetahuinya (the process). Para epistemolog adalah pencari pengetahuan yang sangat ulet. Mereka ingin mengetahui apa yang diketahui (what is known), siapa yang tahu atau dapat mengetahuinya (who knows or can know), dan yang terpenting, bagaimana kita tahu (how we know). Mereka adalah para pengawas dari keluasan ranah kognitif manusia.
Pertanyaan-pertnyaan tersebut didahului dengan pertnayaan, “dapatkah kita mengetahui (can we know?)”. terdapat tiga posisi epistemologis

Dogmatisme
Aliran ini menjawab: ya, tentu saja kita dapat dan benar-benar mengetahui (we can and do know). Selanjutnya, kita yakin (we are certain). Untuk mengetahui sesuatu, kita hars lebih dahulu memiliki beberapa pengetahuan yang memenuhi dua kriteria, yaitu certain (pasti) dan uninferred (tidak bergantung pada klaim pengetahuan sebelumnya). Contoh: a = a dan keseluruhan > bagian.

Skeptisme
Aliran ini menjawab, bahwa tidak benar-benar tahu da tidak juga dapat mengetahui. Mereka setuju dengan dogmatisme bahwa untuk berpengatahuan, seseorang terlebih dahulu harus mempunyai beberapa premis yang pasti dan bukannya inferensi. Akan tetapi, mereka menolak klaim eksistensi premis-premis yang self-evident (terbukti dengan sendirinya). Respon aliran ini seolah-olah menenggelamkan manusia ke dalam lautan ketidakpastian dan opini.

Fallibilisme
Aliran ini menjawab bahwa kita dapat mengetahui sesuatu, tetapi kita tidak akan pernah memepunyai pengetahuan pasti sebagaimana pandangan kaum dogmatis. Mereka hanya mengatakan ada yang dapat diverifikasi melampui posibillitas-posibillitas dari keraguan yang mencakup pernyataan tertentu. Inilah yang dikenal dengan istilah “doubting Thomas”, yaitu yakin bahwa kita selalu berhubungan dengan berbagai posibilitas dan probabilitas (pengetahuan), tetapi tidak pernah berhubungan dengan kepastian. Filosofi falllibilistik ini memandang sains senantiasa berada dalam gerak (posture) dan tidak diam. Belajar pengetahuan selalu bersifat terbuka untuk berubah dan bukannya final, bersifat relatif dan bukannya absolut, bersifat mungkin daripada pasti. Model kerja aliran aliran ini adalah mengkaji pergeseran-pergeseran, melakukan cek dan re-cek, meskipun hasil yang dicapai selalu saja akan bersifat tentatif. Para filsuf kontemporer, kecuali beberapa eksistensibilitas, percaya bahwa kita (manusia) memang dapat mengetahui, tetapi bagaimana? Idealisme menjawab bahwa pengetahuan itu terdiri atas ide. Ide adalah produk akal (the mind) atau hasil dari proses mental dari intuisi dan penalaran. Intuisi (jika belum nalar) dapat meraih pengetahuan yang pasti. Analogi yang dipakainya adlah analogi garputala.
Realis klasik menjawab bahwa daya rasional dari akal mengurai kode pengalaman dan merajut kebenaran darinya. Pengetahuan kita tentang dunia eksternal hadir melalui penalaran terhadap laporan-laporan observasi. Meskipun laporan tersebut dari waktu ke waktu sering menipu kita, kita selalu dapat bersandar pada nalar kita dan percayalah bahwa pengetahuan pasti ada, kebenaran absolut itu ada, dan kita bisa menemukannya.
Kaum Thomis menjawab bahwa kita meletakkan kepercayaan pada wahyu sebagaimana pada nalar. Bagi mereka, ada kebenaran yang ditemukan (truth finding) dan kebenaran yang diberikan (truth living). Adapun orang yang bijak adalah orang yang mampu mengambil manfaat dari keduanya. Aliran ini secara epistemologis bersifat dogmatis. Sementara kaum realis modern, pragmatis, empiris logis, atau naturalis mengambil tesis falibilistik bahwa pengetahuan bersifat kontingen dari perubahan serta kebenaran bersifat relatif sesuai dengan kondisinya. Dari sini, epistemologi adalah bidang tugas filsafat yang mencakup identifikasi dan pengujian kriteria pengetahuan dan kebenaran. Pernyataan kategoris yang menyebutkan bahwa “ini kita tahu” atau “ini adalah kebenaran” merupakan pernyataan yang penuh makna bagi para pendidik.

Axiologi
Axiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Dalam Encyslopedia of philosophy dijelaskan axiologi disamakan dengan value and valuation: 1) Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian, 2) Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya atau nilai dia. 3) Nilai juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai atau dinilai.
          Menurut Bramel (dalam ikartiwa, 2011) Axiologi terbagi tiga bagian: 1) Moral Conduct, yaitu tindakan moral, Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika. 2) Estetic expression, yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan, 3) Socio-politcal life, yaitu kehidupan sosial politik, yangakan melahirkan filsafat social politik.
          Menurut Wibisono (dalam ikartiwa, 2011) axiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu. Axiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and and). Axiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis.
          Axiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Kusumawardhana, 2011). Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Juga dinyatakan bahwa pertanyaan mengenai hakekat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara yaitu: 1) Subyektivitas yatu nilai sepenuhnya berhakekat subyektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai merupakan reaksi yang diberikan manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung dari pengalaman, 2) Obyektivisme logis yaitu nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu.Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan dapat diketahui melalui akal, 3) Obyektivisme metafisik yaitu nilai merupakan unsur obyektif yang menyusun kenyataan.
          Situasi nilai meliputi empat hal yaitu pertama, segi pragmatis yang merupakan suatu subyek yang memberi nilai. Kedua, segi semantis yang merupakan suatu obyek yang diberi nilai. Ketiga, suatu perbuatan penilaian. Keempat, nilai ditambah perbuatan penilaian.
          Axiologi membahas tentang masalah nilai. Istilah axiologi berasal dari kata axio dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori, axiologi artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat,kriteria dan status metafisik dari nilai. Problem utama axiologi ujar runes (dalam Rizal, 2001) berkaitan empat faktor: 1) Kodrat nilai berupa problem mengenai apakah nilai itu berasl dari keinginan, kesenangan, kepentingan, keinginan rasio murni, 2) Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental (baik barang-barang ekonomi atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai-nilai intrinsik. 3) Kriteria nilai (ukuran nilai yang di butuhkan).
          Axiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum, sebagai landasan ilmu, axiologi membicarakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan?. Axiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat Nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan (Surajiyo, 2007).
          Nilai Intrinsik, contohnya pisau dikatakan baik karena mengandung kualitas-kualitas pengirisan didalam dirinya, sedangkan Nilai Instrumentalnya ialah pisau yang baik adalah pisau yang dapat digunakan untuk mengiris, jadi dapat disimpulkan bahwa Nilai Instrinsik ialah Nilai yang yang dikandung pisau itu sendiri atau sesuatu itu sendiri, sedangkan Nilai Instrumental ialah Nilai sesuatu yang bermanfaat atau dapat dikatakan Niai guna (Soejono, 1986).
          Situasi Nilai meliputi: 1) Suatu subyek yang memberi nilai – yang sebaiknya kita namakan “segi pragmatis”, 2 )Suatu obyek yang diberi nilai-yang kita sebut “segi semantis”, 3) Suatu perbuatan penilaian, 4) Suatu nilai ditambah perbuatan penilaian.
          Pendekatan-pendekatan dalam Axiologi dapat dijawab dengan tiga macam cara yaitu 1. Nilai sepenuhnya berhakekat subyektif, 2. Nilai-Nilai merupakan kenyataan-kenyataan yang ditinjau dari segi ontologi namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu, 3. Nilai-Nilai merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan. Sedangkan makna “Nilai” memiliki arti: 1. Mengandung Nilai, 2. Merupakan Nilai, 3. Mempunyai Nilai, 4. Memberi Nilai