wibiya widget

rss

Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Analisis Kritis Artikel Model Pembelajaran CIRC


ANALISIS KRITIS ARTIKEL
oleh: Rizhal Hendi Ristanto


Bibliografi
Zarei, A.A. 2012. The Effects of STAD and CIRC on L2 Reading Comprehension and Vocabulary Learning. Frontiers of Language and Teaching, Vol. 3, 161-173

Tujuan penulisnya:
Mengetahui efektifitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan CIRC terhadap prestasi pemahaman bacaan dan belajar kosa kata bahasa inggris pada mahasiswa Iran.

Fakta-fakta Unik
Populasi dan sampel:
Populasi: 132 mahasiswi dari National Institute of English Language (NIEL) Takestan, Iran.
Sampel: 132 mahasiswi , teerdiri atas 3 kelompok pada tingkatan dasar, masing-masing kelompok terdiri dari 24 mahasiswi dan 3 kelompok dengan jumlah anggota masing-masing sebanyak 20.
Prosedur penelitian:
Membentuk kelompok yang bersifat heterogen yaitu dengan melihat hasil pre tes kemudian menentukan 5 siswa yang berprestasi tinggi dan 5 siswa dengan prestasi rendah, sedangkan pada kelompok dasar dipilih 6 siswa dengan prestasi tinggi dan 6 siswa dengan prestasi rendah.

Rumus menentukan anggota kelompok terdiri dari 1 prestasi tinggi dan rendah, serta 2 dengan prestasi rata-rata. Alasannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling belajar
. Menentukan kelompok dengan menerapkan model STAD dan CIRC

Kelompok STAD:
Guru menjelaskan materi, kemudian siswa dalam kelompok saling belajar hingga bisa benar-benar memahami materi kemudian siswa diberikan tes secara individu. Hasil post test dan pre test kemudian di uji untuk mengukur hasil belajar mereka. Skor kelompok didapatkan dari hasil penjumlahan skor seluruh anggota, dan kelompok yang memiliki jumlah skor terbaik mendapatkan penghargaan.

Kelompok CIRC:
Siswa dalam kelompok diminta untuk mengikuti 4 fase Cooperative Strategic Reading (CSR)
Siswa diminta untuk merangkum pada tiap-tiap bagian bacaan
Setiap sesi terdiri dari 5 langkah yaitu (1) pengantar pembelajaran (2) pemodelan berpikir (3) bantuan scaffolding, mendapatkan lebih banyak bantuan guru, kurang mendapatkan bantuan guru, tidak ada bantuan guru (4) aplikasi dalam membaca (5) aplikasi secara tertulis.
Pada Setiap sesi, peserta didik dawajibkan membaca dan mendiskusikan hasil. Apabila siswa menemukan istilah baru maka siswa dimnita untuk menemukan makna istilah tersebut.
Pada kedua kelompok STAD maupun  CIRC dituntut untuk berdiskusi, saling membantu, sedangkan guru memberikan bimbingan pada tiap-tiap kelompok.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul:
Pada artikel, salah satu sintaks kooperatif STAD maupun CIRC mengapa tidak menyebutkan presentasi siswa atau diskusi kelas yang selama ini saya ketahui menjadi salah satu kelebihan pembelajaran kooperatif?

Bagaimanakah 4 fase Cooperative Strategic Reading  yang diterapkan pada model CIRC?

Bagaimakah efektifitas CIRC terhadap hasil belajar dan pemahaman  bahasa-bahasa ilmiah pada mata kuliah konsep dasar biologi SD?

Konsep Utama
Penelitian yang diterapkan pada mahasiswi National Institute of English Language dengan membandingkan dua model belajar kooperatif yaitu STAD dan CIRC menunjukkan pembelajaran CIRC lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar berupa pemahaman membaca dan belajar kosa kata atau istilah baru.

Refkeksi
Setelah menganalisis artikel ini, saya menjadi lebih memahami tentang prosedur pada pelaksanaan model CIRC yang nantinya model ini yang saya terapkan pada rencana penelitian disertasi saya, meskipun metode penelitian dalam artikel ini masih kurang menampilkan sintaks diskusi kelas atau presentasi kelas yang berfungsi untuk menyamkan persepsi yang mungkin masih belum tepat pada saat proses pembelajaran baik STAD maupun CIRC. CIRC tepat untuk belajar dengan membaca dan pemahaman pada istilah-istilah baru. Hal tersebut saya kira sesuai juga dengan karakteristik mata kuliah konsep dasar biologi SD yang menuntut mahasiswa untuk paham istilah-istilah atau bahasa-bahasa ilmiah yang selama ini masih menjadi salah satu kendala mahasiswa PGSD Universitas Pakuan yang didominasi dari lulusan SLTA jurusan non-IPA atau tidak ada mata pelajaran biologi.


KOMPONEN DAN ASPEK-ASPEK DALAM LITERASI SAINS

      Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah, seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan (Rustaman et al., 2004). PISA (2000) menetapkan lima komponen proses sains dalam penilaian literasi sains, yaitu:
  1. Mengenal pertanyaan ilmiah, yaitu pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah, seperti mengidentifikasi pertanyaan yang dapat dijawab oleh sains.
  2. Mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah. Proses ini melibatkan identifikasi atau pengajuan bukti yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dalam suatu penyelidikan sains, atau prosedur yang diperlukan untuk memperoleh bukti itu.
  3. Menarik dan mengevaluasi kesimpulan. Proses ini melibatkan kemampuan menghubungkan kesimpulan dengan bukti yang mendasari atau seharusnya mendasari kesimpulan itu.
  4. Mengkomunikasikan kesimpulan yang valid, yakni mengungkapkan secara tepat kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti yang tersedia.
  5. Mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains, yakni kemampuan menggunakan konsep-konsep dalam situasi yang berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.

      Dari hasil akhir proses sains ini, siswa diharapkan dapat menggunakan konsep-konsep sains dalam konteks yang berbeda dari yang telah dipelajarinya. PISA memandang pendidikan sains untuk mempersiapkan warganegara masa depan, yang mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang akan semakin terpengaruh oleh kemajuan sains dan teknologi, perlu mengembangkan kemampuan anak untuk memahami hakekat sains, prosedur sains, serta kekuatan dan keterbatasan sains. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk menggunakan pengetahuan sains, kemampuan untuk memperoleh pemahaman sains dan kemampuan untuk menginterpretasikan dan mematuhi fakta.  Alasan ini  yang menyebabkan PISA tahun 2003  menetapkan 3 komponen proses sains berikut ini dalam penilaian literasi sains.

1. Mendiskripsikan, menjelaskan, memprediksi gejala sains.
2. Memahami penyelidikan sains
3. Menginterpretasikan bukti dan kesimpulan sains.

HUBUNGAN LITERASI SAINS DENGAN PISA

PISA (Programme for International Student Assessment) adalah studi literasi yang bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun (kelas III SMP dan Kelas I SMA) dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains (scientific literacy). Penelitian yang dilakukan PISA meliputi tiga periode, yaitu tahun 2000, 2003, dan 2006.

Pada tahun 2000 penelitian PISA difokuskan kepada kemampuan membaca, sementara dua aspek lainnya menjadi pendamping. Pada tahun 2003 aspek matematika menjadi fokus utama kemudian diteruskan aspek sains pada tahun 2006. Studi PISA yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation & Development) dan Unesco Institute for Statistics bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa pada akhir usia wajib belajar untuk mengetahui kesiapan siswa menghadapi tantangan pengetahuan dimasyarakat (knowledge society). Penilaian yang dilakukan dalam PISA berorientasi ke masa depan, yaitu menguji kemampuan anak muda itu untuk menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata, tidak semata-mata mengukur kemampuan yang dicantumkan dalam kurikulum sekolah.

Literasi sains menurut PISA diartikan sebagai “ the capacity to use scientific knowledge, to identify questions and to draw evidence-based conclusions in order to understand and help make decisions about the natural world and the changes made to it through human activity”. Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat multidimensional, bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu. PISA juga menilai pemahaman peserta didik terhadap karakteristik sains sebagai penyelidikan ilmiah, kesadaran akan pentingnya sains dan teknologi membentuk lingkungan material, intelektual dan budaya, serta keinginan untuk terlibat dalam isu-isu terkait sains, sebagai manusia  yang reflektif. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah meneruskan belajar sains atau tidak setelah itu. Berpikir ilmiah merupakan tuntutan warga negara, bukan hanya ilmuwan. 

KURIKULUM SAINS



Ruang Lingkup Bahan Ajar

Ruang lingkup bahan ajar dikalsifikasikan menjadi 2 kategori:
  1. Peserta didik kelas 1 – 9 meliputi: 1) makhluk hidup dan kehidupan, 2) bendan dan sifatnya, 3) energi dan perubahannya, 4) bumi dan alam semesta.
  2. Peserta didik kelas 10 – 12 meliputi: cabang sains yaitu Fisika, Kimia, dan Biologi memiliki ruang lingkup bahan ajar sendiri-sendiri.
Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung, kontekstual dan berpusat pada peserta didik, guru bertindak sebagai fasilitator. Proses pembelajaran yang terlihat dalam SK dan KD kurikulum 2006. Contoh Fisika SD yang berhubungan dengan kerja ilmiah:
  1. Kelas 1 – 3 belum mengenal tentang cara kerja ilmiah. Hanya terbatas pada mengenal, mengidentifikasi, membiasakan, membedakan, menggolongkan, dan mendeskripsikan.
  2. Kelas 4 mulai mengenal cara kerja ilmiah, contoh: gaya dapat merubah bentuk dan gerak suatu benda.
  3. Kelas 5 mulai memahami cara kerja ilmiah, yaitu menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap, tetapi sebagian besar hanya mengidentifikasi dan mendekripsikan.
  4. Kelas , mulai tampak adanya cara kerja ilmiah, yaitu melakukan penyelidikan hubungan antara gaya dan gerak.
  5. Kelas 7 – 12, mulai paham tampak jelas bahwa kerja ilmiah banyak digunakan dalam pembelajaran sains, selain menganalisis dan pemecahan masalah.
Penilaian atau Asesmen

Ditinjau dar kurikulum sains SD, SMP, dan sains Fisika SMA, asesmen pembelajaran sains SD, SMP, dan SMA menekankan pada penilaian kinerja atau penilaian otontik (authentic assessment) dan pemecehan masalah (problem solving). Kurikulum pendidikan sains yang dikembangkan oleh the National Research Council USA dan diterbitkan oleh National Academy Press, Washington DC.

Standar Isi (Content)
  • Garis besar standar isi sains berupa apa saja yang akan diketahui, dipahami, dan dapat dilakukan dalam sains oleh peserta didik; dari TK sampai kelas 12. Ruang lingkup sains dibagi menjadi delapan kategori: 1. Pemersatu konsep dan proses sains; 2. Sains sebagai inkuiri, 3. Ilmu-ilmu kealaman, 4. Ailmu-ilmu hayati, 5. Ilmu pengetahuan bumi dan antariksa  (IPBA); 6. Sains dan teknologi; 7. Sains dalam perspektif personal dan sosial; dan 8. Sejarah dan hakekat sains.

 Standar Pengajaran Sains
  • Mendeskripsikan apa saja yang harus dipahami dan dikerjakan oleh guru-gur sains diseluruh tingkatan kelas.


  1. Perencanaan program sains berdasar penyelidikan
  2. Tindakan membimbing dan memfasilitasi pembelajaran peserta didik
  3. Membuat asesmen pengajaran dan pembelajaran peserta didik
  4. Pengembangan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk belajar IPA
  5. Menciptakan komunitas pembelajar Sains
  6. Merencanakan dan mengembangkan program sains sekolah
Standar Penilaian (Asesmen)
  1. Menyediakan kriteria untuk menentukan kualitas praktik-praktik penilaian.
  2. Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
  3. Penilaian prestasi dan kesempatan keduanya untuk belajar sains
  4. Mencocokan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang diambil dari basis data tersebut
  5. Kejujuran dri praktik penilaian
  6. Ketepatan penarikan kesimpulan yang dibuat dari penialian tentang prestasi peserta didik dan kesempatan untuk belajar.
Dari kuriulum yang dikembangankan oleh the National Research Council USA dapat diperoleh pokok-pokok pikiran untuk pengembangan kurikulum sains kedepan:
  1. Penggolongan standar isi untuk seluruh tingkatan kelas yang sama. Perbedaannya terletak pada kesesuaian antara dimensi pengetahuan (knowledge) dan dimensi proses kognitif (pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif).
  2. Pada pengajaran sains, guru hendaknya a) mengajar IPA berbasis inkuri, b) sebagai pembimbing dan fasilitator, c) menciptakan pembelajaran yang berpusat kepada siswa, d) merancang lingkungan sedemikian rupa untuk sumber pembelajaran kontekstual, e) menciptakan kelompok belajar sains.
  3. Penilaian belajar hendaaknya menekankan pada aspek-aspek yang penting, bukan yang mudah untuk diniliai.
  4. Penilaian hasil belajar jangka panjang berupa kemampuan (ability) yang dicapai melalui interaksi antara pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skills), dengan penilaian otentik berdasarkan data dan jujur.
Materi .ppt download disini



VIRUS



Ciri-ciri virus:
  1.  Kebanyakan memiliki ukuran ultra mikroskopik antara 20 mi – 300 mi (1 mi: 1 x 10-6)
  2. Ilmu yang mempelajari virus: virologi
  3. Tidak memiliki protoplasma
  4. Umumnya berupa hablur/ kristal
  5. Bentuk bervariasi: memanjang (batang atau jarum), oval, bulat, kotak berbidang banyak (polyhedron), ada yang berbentuk T.
  6. Bersifat aktif hanya pada makhluk hidup spesifik


Alasan virus bukan termasuk makhluk hidup
  1. Tidak memiliki protoplasma
  2. Dapat dikristalkan
  3. Ukurannya yang sangat kecil


Sedangkan menurut biologi virus termasuk makhluk hidup adalah:
  • Memiliki DNA/RNA
  •  Mampu bereproduksi (dalam sel hidup)


Sejarah Penemuan Virus:

Ditemukan pertama kali oleh Adolf Mayer (1885) yaitu bercak-bercak kuning (mosaik) pada tembakau. Hal tersebut dikuatkan oleh Dimitri Ivanovsky (1892) dan M. Beijerink (1899) yaitu terdapat pada daun tembakau yang menyebabkan belang-belang pada daun tembakau yang dikenal dengan mosaik daun.

Pada tahun 1897, oleh Loftler dan Frosch menemukan virus yang menyebabkan penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak., berikutnya Reed (1990) menemukan virus yang menyebabkan kuning pada manusia .

Towrt (1916) dan d’ Herelle (1917) menemukan virus bakteri yang menyebabkan lisis (penguraian), virus tersebut adalah bakteriofage (pemakan bakteri).

Peranan Virus
Virus Menguntungkan
  • Virus yang melemahkan bakteri yaitu virus yang menyerang bakteri pathogen, ketika DNA virus lisogenik masuk ke dalam DNA bakteri pathogen. Contoh: Bakteri penyebab difteri dan demam scarlet Selain itu virus digunakan untuk memproduksi vaksin.
  • Virus Merugikan
  • Beberapa virus menyebabkan penyakit seperti mata belek, influenza, polio, cacar, campak, hepatitis, rabies, herpes, gondong, kanker, AIDS, dan ebola.

PERBEDAAN PENDEKATAN, STRATEGI, METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN



A.    PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Menurut Joni (1992/1993) pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek kajian. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa pendekatan pembelajaran adalah cara memandang terhadap pembelajaran. Killen (1998) menggunakan dua pendekatan utama dalam pembelajaran yaitu pendekatan yang berpusat pada aktivitas guru (teacher centered aproach) dan pendekatan yang berpusat kepada siswa (student centered approach).

B.     STRATEGO PEMBELAJARAN
Apabila guru telah mengambil keputusan tentang pendekatan yang akan diterapkan dalam pembelajarannya, maka langkah selanjutnya adalah menetukan strategi yang akan digunakan. Menurut Joni (1992/1993) strategi adalah ilmu atau kiat di dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Acuan utama dalam penentuan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran.

C.    METODE PEMBELAJARAN
Dalam bahasa Inggris, method berarti cara. Apabila dikaitkan dengan pembelajaran, metode adalah cara yang digunakan guru dalam dalam membelajarkan siswa. Menurut Joni (1992/1993) mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa bentu metode mengajar yang kita kenal adalah ceramah, diskusi, tanya jawab, simulasi, pemberian tugas, kerja kelompok, demonstrasi (modelling), eksperimen, pemecahan masalah, inkuiri, dan sebagainya.

D.    TEKNIK PEMBELAJARAN
Teknik pembelajaran mengacu pada ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu, seperti kemampuan dan kebiasaan uru, ketersediaan peralatan, kesiapan siswa, dan sebagainya (Joni 1992/1993). Teknik pembelajaran merupakan wujud konkret dari penggunaan metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran. 

SEL


 Tokoh-tokoh:

Robert Hooke (1655)         
Menggunakan bagian mikroskop untuk menggambarkan pori kecil pada irisan gabus, yaitu sel.

Antoni Van Leuwenhoek (1674)
Membuat dan menggunakan mikroskop cahaya sederhana melaporkan penemuan protoazoa (berikutnya sekitar 9 tahuan kemudian di temukan bakteri)

Schleiden dan Schwann (1838)
Mengusulkan teori sel, bahwa sel terjdai setelah 20 tahun kemudian, ketika Rudolph Virchow, ahli Patologi Jerman mempublikasikan teori Omnis Cellula e celulla” artinya semua sel berasala dari sel sebelumnya.

Sel merupakan unit struktural dan fungsional terkecil dari suatu makhluk hidup.

Ciri-ciri sel:
·        Ukuran mikroskopis (bersifat nanometer 10­­­-9 sampai dengan mikrometer 10-6)
·        Dapat ditembus cahaya
·        Dibutuhkan teknik pewarnaan untuk mempelajari lebih lanjut


PEBEDAAN SEL HEWAN DAN TUMBUHAN
Sel Hewan
Sel Tumbuhan
1.      Tidak memiliki dinding sel
1.     Memiliki dinding sel dan membran sel
2.      Tidak memiliki plastida
2.      Umumnya memiliki plastida
3.      Memiliki lisosom
3.      Tidak memiliki lisosom
4.      Memiliki sentrosom
4.      Tidak memiliki sentrosom
5. Timbunan zat berupa lemak dan glikogen
5.      Timbunan zat berupa pati
6.      Bentuk tidak tetap
6.      Bentuk tetap
7.     Pada hewan tertentu memiliki vakuola, ukuran kecil, sedikit
7.    Memiliki vakuola ukuran besar, banyak



Berdasarkan ada tidaknya membran inti sel dibedakan menjadi:
1.      Memiliki membran nukleus (Eukariotik)
2.      Tidak memiliki membran inti (Prokariotik) Contohnya: Bakteri, Cyanobakteria, dan alga hijau biru.

STRUKTUR DAN FUNGSI PERMUKAAN SEL DAN ORGANEL-ORGANEL SEL
1.      Struktur dan Fungsi Permukaan Sel
a.      Membran Plasma (membran sel)
·        Letak: mengelilingi cairan sel (sitoplasma) dan organel-organel sel.
·        Terdiri dari dua lapis fosfolipid, mengandung fosfolipid yang berbeda
·        Fungsi: Melindungi isi sel, memberikan bentuk pada sel, tempat perpindahan materi dari dan ke dalam sel.
·        Terdapat 3 macam proses keluar dan masuknya substansi melalui membran plasma:
1)     Difusi sederhana
2)     Difusi berfasilitas, keluar dan masuknya ion atau molekul yaitu a) dengan perantara pori yang dibentuk oleh protein; b) dengan berdifusi langsung  melalui fase lipid membran (urea, etanol); c) ditangkap oleh ionofor (Ca2+); d) di ikat oleh Carrier atau transporter, protein yang merubah konformasi dan melepaskan muatannya (ex: Cl-) kearah yang beralawanan.
3)     Transport aktif
Pemindahan ion melalui membran plasma membutuhkan energi, khsusunya terjadi ketika perpindahan ion melawan gradien konsentrasi (dari rendah ke tinggi).
·        Terjadi peristiwa difusi dan osmosis, difusi: transport ion dan molekul melintasi membran, pergerakan air dari dan ke suatau sel melalui membran semi permeabel
b.      Dinding Sel
·        Hanya dimiliki oleh sel tumbuhan, bakteri, dan beberapa fungi
·        Berfungsi sebagai penguat dan pelindung
·        Sebagaian besar tumbuhan disusun oleh selulosa (polisakarida dengan berat molekul yang tinggi) tersusun beberapa lapis membran di atas membran sel.
·        Pada tumbuhan terdiri atas tiga bagian: lamela tengah, dinding primer, dan dinding sekunder.
·        Pada bakteri menandung polisakarida, lipid, dan peptidoglikan (rantai pendek asam, amino dan gula)
c.      Glikokaliks
·        Disebut juga selaput gula pada sel hewan yang terdiri dari molekul glikolipid dan glikoprotein.
·        Banyak ditemukn pada permukaan epitel


2.      STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANEL-ORGANEL SEL
1.      Sitoplasma          
Merupakan substansi semicair dilindungi oleh membran plasma, mengandung organel-organel dan molekul yang bertanggung jawab pada metabolisme dan beberapa fungsi sel.
2.      Nukleus (inti sel)
Pada eukariotik menyimpan materi genetik (DNA) yang ditempatkan pada kromosom
3.      Ribosom
Disusun oleh dua sub unit RNA, dan tempat terjadinya sintesis protein.
4.      Retikulum Endoplasma
Terdiri dari RE kasar dan RE halus
RE kasar tempat terjadinya sintesis , modifikasi dan transport protein, sedangkan RE halus sebagai transpor dan sintesis lemak, steroid dan detoksifikasi
5.      Badan/ aparatus golgi
Tempat molekul dibuat di dalam RE, dimodifikasi dan dikemas untuk dikirim ke sitoplasma.
6.      Vakuola
Dapat menyimpan cairan, nutrisi, dan cairan tidak bermuatan, juga limbah. Merupakan suatu bentuk fagositosis, ketika mengambil cairan disebut pinositosis, mengambil benda padat disebut endositosis, dan mengeluarkan benda padat eksositosis.
7.      Vesikel Berselaput
8.      Lisosom
Menandung bermacan enzim penghancur dan pencerna bahan-bahan dan sisa-sisa sel.
9.      Perosisom
10. Mitokondria
Organel yang mereplikasi diri, ditemukan dalam semua sel eukariotik. Memiliki membran luar dan membran dalam disebut krista tempat dibentuknya ATP, dan daerah pusat matriks.
11. Plastida
Merupakan tempat fotosintesi pada sel tumbuhan, atau tempat penyimpanan bermacam nutrisi dan pigmen (kloroplas berwarna hijau dan leukoplas tidak berwarna
12. Sitokesleton
13. Sentriol
14. Silia dan Flagela
 

Komentar

Tag

Bahan Ajar (42) Biologi (33) Fisika (20) Guru (30) IPA (44) Kesehatan (11) Kimia (25) Kuliah (26) Media (3) PLH (1) Pembelajaran (56) Pendidikan (58) Penelitian (13)

Follower

Histats

Most Wanted