Materi
Teknologi Media Pembelajaran (file .ppt)
Tampilkan postingan dengan label PPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PPT. Tampilkan semua postingan
KONSEP DASAR BUMI DAN ANTARIKSA SD .ppt
MATERI .ppt KONSEP DASAR BUMI DAN ANTARIKSA SD:
1.1 STRUKTUR LAPISAN KULIT BUMI (LITOSFER)
1.2 BENTUK PERMUKAAN BUMI
1.3 PERUBAHAN BENTANG ALAM DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN
2.1 ATMOSFER
2.2 CUACA DAN IKLIM
2.3 KLASIFIKASI IKLIM
3 HIDROSFER
6 TATA SURYA
KURIKULUM SAINS
Ruang Lingkup Bahan
Ajar
Ruang
lingkup bahan ajar dikalsifikasikan menjadi 2 kategori:
- Peserta didik kelas 1 – 9 meliputi: 1) makhluk hidup dan kehidupan, 2) bendan dan sifatnya, 3) energi dan perubahannya, 4) bumi dan alam semesta.
- Peserta didik kelas 10 – 12 meliputi: cabang sains yaitu Fisika, Kimia, dan Biologi memiliki ruang lingkup bahan ajar sendiri-sendiri.
Proses Pembelajaran
Proses
pembelajaran menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung, kontekstual
dan berpusat pada peserta didik, guru bertindak sebagai fasilitator. Proses
pembelajaran yang terlihat dalam SK dan KD kurikulum 2006. Contoh Fisika SD
yang berhubungan dengan kerja ilmiah:
- Kelas 1 – 3 belum mengenal tentang cara kerja ilmiah. Hanya terbatas pada mengenal, mengidentifikasi, membiasakan, membedakan, menggolongkan, dan mendeskripsikan.
- Kelas 4 mulai mengenal cara kerja ilmiah, contoh: gaya dapat merubah bentuk dan gerak suatu benda.
- Kelas 5 mulai memahami cara kerja ilmiah, yaitu menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap, tetapi sebagian besar hanya mengidentifikasi dan mendekripsikan.
- Kelas , mulai tampak adanya cara kerja ilmiah, yaitu melakukan penyelidikan hubungan antara gaya dan gerak.
- Kelas 7 – 12, mulai paham tampak jelas bahwa kerja ilmiah banyak digunakan dalam pembelajaran sains, selain menganalisis dan pemecahan masalah.
Penilaian atau Asesmen
Ditinjau
dar kurikulum sains SD, SMP, dan sains Fisika SMA, asesmen pembelajaran sains
SD, SMP, dan SMA menekankan pada penilaian kinerja atau penilaian otontik (authentic assessment) dan pemecehan
masalah (problem solving). Kurikulum
pendidikan sains yang dikembangkan oleh the
National Research Council USA dan diterbitkan oleh National Academy Press,
Washington DC.
Standar Isi (Content)
- Garis besar standar isi sains berupa apa saja yang akan diketahui, dipahami, dan dapat dilakukan dalam sains oleh peserta didik; dari TK sampai kelas 12. Ruang lingkup sains dibagi menjadi delapan kategori: 1. Pemersatu konsep dan proses sains; 2. Sains sebagai inkuiri, 3. Ilmu-ilmu kealaman, 4. Ailmu-ilmu hayati, 5. Ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA); 6. Sains dan teknologi; 7. Sains dalam perspektif personal dan sosial; dan 8. Sejarah dan hakekat sains.
Standar Pengajaran Sains
- Mendeskripsikan apa saja yang harus dipahami dan dikerjakan oleh guru-gur sains diseluruh tingkatan kelas.
- Perencanaan program sains berdasar penyelidikan
- Tindakan membimbing dan memfasilitasi pembelajaran peserta didik
- Membuat asesmen pengajaran dan pembelajaran peserta didik
- Pengembangan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk belajar IPA
- Menciptakan komunitas pembelajar Sains
- Merencanakan dan mengembangkan program sains sekolah
Standar Penilaian (Asesmen)
- Menyediakan kriteria untuk menentukan kualitas praktik-praktik penilaian.
- Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
- Penilaian prestasi dan kesempatan keduanya untuk belajar sains
- Mencocokan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang diambil dari basis data tersebut
- Kejujuran dri praktik penilaian
- Ketepatan penarikan kesimpulan yang dibuat dari penialian tentang prestasi peserta didik dan kesempatan untuk belajar.
Dari
kuriulum yang dikembangankan oleh the National
Research Council USA dapat diperoleh pokok-pokok pikiran untuk pengembangan
kurikulum sains kedepan:
- Penggolongan standar isi untuk seluruh tingkatan kelas yang sama. Perbedaannya terletak pada kesesuaian antara dimensi pengetahuan (knowledge) dan dimensi proses kognitif (pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif).
- Pada pengajaran sains, guru hendaknya a) mengajar IPA berbasis inkuri, b) sebagai pembimbing dan fasilitator, c) menciptakan pembelajaran yang berpusat kepada siswa, d) merancang lingkungan sedemikian rupa untuk sumber pembelajaran kontekstual, e) menciptakan kelompok belajar sains.
- Penilaian belajar hendaaknya menekankan pada aspek-aspek yang penting, bukan yang mudah untuk diniliai.
- Penilaian hasil belajar jangka panjang berupa kemampuan (ability) yang dicapai melalui interaksi antara pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skills), dengan penilaian otentik berdasarkan data dan jujur.
Materi .ppt download disini
PEBELAJARAN SAINS UNTUK PENDIDIKAN DASAR DAN KARAKTERISTIK SISWA
Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan.
Proses
pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara
ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat
membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
alam sekitar.
Di
tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains,
lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar
untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan
kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
TUJUAN MATA PELAJARAN IPA
Mata
Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampua sebagai
berikut.
- Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
- Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
- Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat
- Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
- Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
- Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
- Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Ruang
Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut.
- Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
- Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas
- Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana
- Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.
Karakterisitik Anak SD
Sebagaimana dikemukakan oleh Angela
Anning (1994) perkembangan belajar anak itu sebagai berikut
1. Kemampuan berfikir anak itu berkembang secara
sekuensial dari kongkrit menuju abstrak.
2.
Anak harus
siap menuju ke tahap perkembangan berikutnya dan tidak boleh dipaksakan untuk
bergerak menuju tahapperkembangan kognitif yang lebih tinggi, misalnya:dalam
hal membaca permulaan, mengingat angka,dan belajar konservasi.
3.
Anak
belajar melalui pengalaman-pengalaman langsung, khususnya melalui aktivitas
bermain.
4.
Anak
memerlukan pengembangan kemampuan penggunaan bahasa yang dapat digunaka secara
efektif di sekolah.
5.
Perkembangan
sosial anak bergerak dari egosentris menuju kepada kemampuan untuk berempati
dengan yang lain.
6.
Setiap anak
sebagai seiorang individu, masing-masing memiliki cara belajar yang unik.
Karakteristik pertumbuhan
kejiwaan sebagai berikut.
1.
Pertumbuhan
fisik dan motorik maju pesat.
2.
Kehidupan
sosialnya diperkaya dalam hal kemampuan, kerjasama juga bersaing dan kehidupan
kelompok sebaya.
3.
Semakin
menyadari diri selain mempunyai keinginan, perasaan tertentu dan minat
tertentu.
4.
Kemampuan
berfikirnya masih dalam tingkatan persepsional.
5.
Dalam
bergaul, bekerjasama dan kegiatan bersama tidak membedakan jenis yang menjadi
dasar adalah perhatian dan pengalaman yang sama.
6.
Mempunyai
kesanggupan untuk memahami hubungan sebab akibat.
7.
Ketergantungan
kepada orang dewasa semakin berkurang dan kurang memerlukan perlindungan orang
dewasa (tim dosen FIP IKIP Malang, 1980 dalam Drs. Suharjo, M. S., M.A)
Karakteristik utama siswa sekolah dasar
adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan
bidang, di antaranya adalah perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam
kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan
psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia
pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak
mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping
itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.
Sedangkan menurut Thornburg (1984)
anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak
perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada
dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku
mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Menurut
Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu :
kedewasaan (maturation), pengalaman
fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson
mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil
belajar.
Piaget mengidentifikasikan tahapan
perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu:
- Tahap sensorik motor usia 0-2 tahun.
- Tahap operasional usia 2-6 tahun
- Tahap opersional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun.
- Tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.
Berdasarkan uraian di
atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap
ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta
perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada
objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi.
Nasution (1992) mengatakan bahwa masa
kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut :
- Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit
- Amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar
- Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor
- Pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri
- Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah
- Anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama.
Seperti dikatakan
Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami
perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan
badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut
tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga
aspek tersebut.
Karakteristiknya antara lain:
- Senang bermain
- Senang bergerak
- Senang bekerja dalam kelompok
- Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung.
- Anak cengeng dan manja
- Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
- Senang diperhatikan
- Senang meniru
KIMIA DASAR
Kimia (dari bahasa Arab: كيمياء,
transliterasi: kimiya = perubahan benda/zat atau bahasa Yunani: χημεία,
transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang mempelajari mengenai komposisi,
struktur, dan sifat zat atau materi dari skala atom hingga molekul serta perubahan
atau transformasi serta interaksi mereka untuk membentuk materi yang ditemukan
sehari-hari. Kimia juga mempelajari pemahaman sifat dan interaksi atom individu
dengan tujuan untuk menerapkan pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik.
Menurut kimia modern, sifat fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada
tingkat atom yang pada gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia
Kimia sering disebut
sebagai "ilmu andryan" karena menghubungkan berbagai ilmu lain,
seperti fisika, ilmu bahan, nanoteknologi, biologi, farmasi, kedokteran,
bioinformatika, dan geologi [1]. Koneksi ini timbul melalui berbagai
subdisiplin yang memanfaatkan konsep-konsep dari berbagai disiplin ilmu.
Sebagai contoh, kimia fisik melibatkan penerapan prinsip-prinsip fisika
terhadap materi pada tingkat atom dan molekul.
Kimia berhubungan dengan
interaksi materi yang dapat melibatkan dua zat atau antara materi dan energi,
terutama dalam hubungannya dengan hukum pertama termodinamika. Kimia
tradisional melibatkan interaksi antara zat kimia dalam reaksi kimia, yang
mengubah satu atau lebih zat menjadi satu atau lebih zat lain. Kadang reaksi
ini digerakkan oleh pertimbangan entalpi, seperti ketika dua zat berentalpi
tinggi seperti hidrogen dan oksigen elemental bereaksi membentuk air, zat
dengan entalpi lebih rendah. Reaksi kimia dapat difasilitasi dengan suatu
katalis, yang umumnya merupakan zat kimia lain yang terlibat dalam media reaksi
tapi tidak dikonsumsi (contohnya adalah asam sulfat yang mengkatalisasi
elektrolisis air) atau fenomena immaterial (seperti radiasi elektromagnet dalam
reaksi fotokimia). Kimia tradisional juga menangani analisis zat kimia, baik di
dalam maupun di luar suatu reaksi, seperti dalam spektroskopi.
Semua materi normal
terdiri dari atom atau komponen-komponen subatom yang membentuk atom; proton,
elektron, dan neutron. Atom dapat dikombinasikan untuk menghasilkan bentuk
materi yang lebih kompleks seperti ion, molekul, atau kristal. Struktur dunia
yang kita jalani sehari-hari dan sifat materi yang berinteraksi dengan kita
ditentukan oleh sifat zat-zat kimia dan interaksi antar mereka. Baja lebih
keras dari besi karena atom-atomnya terikat dalam struktur kristal yang lebih
kaku. Kayu terbakar atau mengalami oksidasi cepat karena ia dapat bereaksi
secara spontan dengan oksigen pada suatu reaksi kimia jika berada di atas suatu
suhu tertentu.
Zat cenderung
diklasifikasikan berdasarkan energi, fase, atau komposisi kimianya. Materi
dapat digolongkan dalam 4 fase, urutan dari yang memiliki energi paling rendah
adalah padat, cair, gas, dan plasma. Dari keempat jenis fase ini, fase plasma
hanya dapat ditemui di luar angkasa yang berupa bintang, karena kebutuhan
energinya yang teramat besar. Zat padat memiliki struktur tetap pada suhu kamar
yang dapat melawan gravitasi atau gaya lemah lain yang mencoba mengubahnya. Zat
cair memiliki ikatan yang terbatas, tanpa struktur, dan akan mengalir bersama
gravitasi. Gas tidak memiliki ikatan dan bertindak sebagai partikel bebas.
Sementara itu, plasma hanya terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas; pasokan
energi yang berlebih mencegah ion-ion ini bersatu menjadi partikel unsur. Satu
cara untuk membedakan ketiga fase pertama adalah dengan volume dan bentuknya:
kasarnya, zat padat memeliki volume dan bentuk yang tetap, zat cair memiliki
volume tetap tapi tanpa bentuk yang tetap, sedangkan gas tidak memiliki baik
volume ataupun bentuk yang tetap.
Air (H2O) berbentuk
cairan dalam suhu kamar karena molekul-molekulnya terikat oleh gaya
antarmolekul yang disebut ikatan Hidrogen. Di sisi lain, hidrogen sulfida (H2S)
berbentuk gas pada suhu kamar dan tekanan standar, karena molekul-molekulnya
terikat dengan interaksi dwikutub (dipole) yang lebih lemah. Ikatan hidrogen
pada air memiliki cukup energi untuk mempertahankan molekul air untuk tidak
terpisah satu sama lain, tapi tidak untuk mengalir, yang menjadikannya berwujud
cairan dalam suhu antara 0 °C sampai 100 °C pada permukaan laut. Menurunkan
suhu atau energi lebih lanjut mengizinkan organisasi bentuk yang lebih erat,
menghasilkan suatu zat padat, dan melepaskan energi. Peningkatan energi akan
mencairkan es walaupun suhu tidak akan berubah sampai semua es cair.
Peningkatan suhu air pada gilirannya akan menyebabkannya mendidih (lihat panas
penguapan) sewaktu terdapat cukup energi untuk mengatasi gaya tarik
antarmolekul dan selanjutnya memungkinkan molekul untuk bergerak menjauhi satu
sama lain.
Ilmuwan yang mempelajari
kimia sering disebut kimiawan. Sebagian besar kimiawan melakukan spesialisasi
dalam satu atau lebih subdisiplin. Kimia yang diajarkan pada sekolah menengah
sering disebut "kimia umum" dan ditujukan sebagai pengantar terhadap
banyak konsep-konsep dasar dan untuk memberikan pelajar alat untuk melanjutkan
ke subjek lanjutannya. Banyak konsep yang dipresentasikan pada tingkat ini
sering dianggap tak lengkap dan tidak akurat secara teknis. Walaupun demikian,
hal tersebut merupakan alat yang luar biasa. Kimiawan secara reguler
menggunakan alat dan penjelasan yang sederhana dan elegan ini dalam karya
mereka, karena terbukti mampu secara akurat membuat model reaktivitas kimia yang
sangat bervariasi.
Ilmu kimia secara sejarah
merupakan pengembangan baru, tapi ilmu ini berakar pada alkimia yang telah
dipraktikkan selama berabad-abad di seluruh dunia.
Source : wikipedia
Materi kuliah kimia Dasar Pendidikan biologi
Universitas Pakuan Bogor dapat di unduh pada link berikut:
Link 2: Sifat-sifat Fisis Larutan
Link 3: Stoikiometri
Link 4: Sifat Koligatif Larutan
Langganan:
Postingan (Atom)




